REKRUTMEN DAN PEMBINAAN KALIGRAFI DI DKI JAKARTA MENYONGSONG MTQ MASA DEPAN

0




Oleh D. Sirojuddin AR

Dalam rangka memberikan sumbang saran pemikiran berkenaan dengan upaya meningkatkan rekrutmen dan pembinaan kaligrafi atau seni menulis halus khat di DKI Jakarta, berikut ini beberapa catatan yang dapat dijadikan pertimbangan:

1.      Yang pertama harus diketahui adalah dasar diwajibkannya belajar menulis khat/kaligrafi dan me-ngembangkannya baik untuk tujuan fungsional maupun estetis. Isyarat yang ditunjukkan Rasulullah saw cukup jelas. Pertama-tama, beliau membimbing Hafsah untuk belajar menulis, yakni dengan mengajari keluarganya. Sesudah peperangan Badar, pelajaran menulis beliau perluas kepada para pemuda. Di sini Rasulullah saw mengingatkan pentingnya pelajaran menulis semenjak dini sebagai-mana sabdanya:


“إنّ من حق الولد على والده أن يعلّمه الكتابة وأن يحسن اسمه وأن يزوّجه اذا بلغ” ـ “أكرموا أولادكم بالكتابة”


“Di antara kewajiban orangtua atas anaknya adalah: mengajarinya menulis, memperbagus nama-nya, dan mengawinkannya kalau sudah dewasa.” (HR Ibnu Bazar).
“Muliakanlah anak-anakmu dengan tulisan.”

قيّدوا العلم بالكتابة. العلم صيد والكتابة قيد”

“Ikatlah ilmu dengan tulisan! Ilmu itu adalah buruan, tulisan adalah talinya.” (HR Tabrani)

“من مات وميراثه الدّفاتر والمحابر دخل الجنّة”


“Barangsiapa meninggal, sedangkan warisannya adalah buku (catatan) dan tinta, ia niscaya masuk syurga.” (HR Dailami)

Berhubung dengan peningkatan fungsi kaligrafi untuk kebutuhan estetis secara professional, Rasulullah saw selalu menekankan agar tulisan dibuat seindah mungkin. Muawiyah diingatkan tatacara memegang dan menggoreskan pulpen agar menghasilkan tulisan yang bagus. Kepada Abdullah beliau saw berseru:

“يا عبدالله، وسّع ما بين السّطور، واجمع ما بين الحروف، وارع المناسبة فى صورها، وأعط كلّ حرف حقّها”

“Wahai Abdullah, renggangkan jarak spasi, susunlah huruf dalam komposisi, peliharalah proporsi bentuk-bentuknya, dan berilah setiap huruf hak-haknya!”

2.      Sangat jelas bahwa pembinaan kaligrafi punya kedudukan sejajar dan harus disatukan dengan komponen-komponen Al-Qur’an lainnya seperti tilawah, tahfizh, dan tafsir. Pembinaan khusus bidang ini harus dilakukan secara nsureional, mencakup nsure-unsur pengajaran, pelatihan intensif, pembinaan jiwa-raga, dan aplikasi karya, seperti diutarakan oleh Ali ibn Abi Talib ra:


الخطّ مخفىّ فى تعليم الأستاذ، وقوامه فى كثرة المشق، ودوامه على دين الإسلام


“Sesungguhnya keindahan kaligrafi itu tersirat dalam pengajaran guru, tonggaknya dengan banyak latihan dan menyusun struktur, dan kelanggengannya bagi seorang muslim adalah dengan meninggalkan segala larangan dan senantiasa berdo’a, padahal asal-usulnya hanyalah mengetahui huruf tunggal dan huruf sambung.”

Pelajaran khat yang dirancang secara terstruktur dan baik ini sangat bermanfaat dalam membentuk pribadi belajar, antara lain dengan menghasilkan sifat-sifat terpuji seperti:
Sabar – kaligrafi tidak bisa digoreskan secara terburu-buru
Disiplin          – ada aturan rumus, gaya, teknik menggores dll.
Kreatif            – mengatasi masalah komposisi dan struktur secara tepat
Waspada- hati-hati dan sopan berhadapan dengan ayat-ayat Al-Qur’an
Trampil          – pandai mengolah dan menggunakan rupa-rupa kalam
Bersih – awas terhadap noda/kotoran.

3.      DKI Jakarta termasuk wilayah yang memiliki banyak kaligrafer dan ahli kaligrafi, meskipun hampir seluruhnya merupakan “pinjaman” dari daerah-daerah lain. Dalam pelbagai lomba seperti MTQ Nasional dan Peraduan Menulis Khat ASEAN, DKI Jakarta banyak mengeluarkan juara. Satu-satunya pesaing terdekat DKI Jakarta adalah Jawa Barat yang memiliki jumlah khattat lebih banyak.


Ivo Milawati (Riau)
sedang asyik membuat karya
Syamsul Maarif (Lampung) dan Luthfi Hakiki (Kalsel)
4.      Prestasi kejuaraan yang diraih para khattat DKI Jakarta ini sebenarnya hanya merupakan hasil dari pelatihan menjelang MTQ Nasional dari kader-kader asuhan Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka). Meskipun meraih prestasi, latihan yang hanya dilangsungkan menjelang MTQ Nasional tersebut sebenarnya kurang intens dan tidak strategis (kalau tujuannya hanya “semata untuk MTQ”), karena ada jeda waktu yang terlalu panjang (2 tahun) ke MTQ Nasional berikutnya. Pembinaan yang di-langsungkan “hanya untuk menghadapi MTQ Nasional” tersebut saat ini harus dianggap kurang tepat, karena kurang dapat memenuhi tujuan “pembinaan yang sebenarnya”, yaitu melahirkan para kader wilayah yang “bukan hanya untuk kebutuhan MTQ Nasional”. Hasil dari “pelatihan sesaat” ini pun berimplikasi luas kepada rekrutmen kader-kader baru yang masih mentah (bahkan sebagian merupakan “sisa” yang tidak juara di wilayah lain) dan memerlukan pembinaan yang meletihkan karena sering dimulai dari dasar.
2.      Model pelatihan gaya lama harus dirubah dengan tujuan: pertama, untuk menghilangkan kesan “LPTQ hanya mengurusi MTQ” (yang menunjukkan terlalu sempitnya jangkauan tugas LPTQ). Ke-dua, untuk lebih memperkukuh hasil pembinaan sambil memperbanyak kader kaligrafi yang dapat dimanfaatkan “untuk segala keperluan” Wilayah DKI Jakarta sendiri, seperti guru khat di sekolah dan pesantren, pelukis kaligrafi, di samping kader-kader dan Pembina MTQ di masa mendatang.
5.       Beberapa upaya yang dapat ditempuh untuk meningkatkan pembinaan kaligrafi di DKI Jakarta antara lain sebagai berikut:
a)      Memperpanjang dan tidak membatasi waktu pelatihan. Masa belajar para kader harus permanen sepanjang periode kepengurusan LPTQ.
b)     Memperluas obyek wilayah pembinaan yang mencakup pembentukan para kader MTQ, guru dan pembina, pelukis, pengelola sanggar, dan pelaku pasar untuk memasarkan karya.
c)     Menyelenggarakan lomba (baik melalui MTQ maupun pada acara-acara lain) secara berkala di seluruh Wilayah DKI Jakarta.
d)     Apresiasi karya melalui pameran kaligrafi pada Peringatan Hari-hari Besar Islam.
e)     Menyelenggarakan penataran perhakiman MKQ (Musabaqah Khat Al-Qur’an) untuk mencari bibit-bibit hakim kaligrafi potensial di seluruh Wilayah DKI Jakarta.
f)      Mengadakan diskusi-diskusi seni budaya Islam untuk meningkatkan apresiasi dan wawasan  para kaligrafer, pelukis, guru dan Pembina kaligrafi, dan komponen terkait.
g)     Mengusahakan dimasukkannya pelajaran kaligrafi dalam muatan lokal sekolah agama tingkat Diniyah Awaliyah/Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah. Di sekolah-sekolah umum, kaligrafi cukup dianjurkan untuk dimasukkan ke dalam pelajaran ekstra kurikula pilihan.
Melalui tujuh upaya tersebut tujuan rekrutmen dan pembinaan kaligrafi di DKI Jakarta akan te-realisasi, meskipun berkonsekuensi biaya tinggi. Dengan merealisasikan program pembinaan seperti itu, kinerja LPTQ DKI Jakarta akan terdorong lebih professional dengan hasil yang maksimal sebagaimana diharapkan semua pihak.
Semoga.                                 
                                   
                                                            Puncak Cipanas, 1-2 Desember 2009
*Disampaikan pada Rakerda LPTQ Provinsi DKI Jakarta, 1-2 desember 2002, di Hotel De Lamar Cipanas, Jawa Barat
Apabila Artikel atau info dalam blog ini baik dan bermanfaat bagi anda, harap disebarkan
Leave A Reply

Your email address will not be published.