PERBEDAAN PENDAPAT MENGENAI MENGHIASI MESJID

0
Sesungguhnya dunia semenjak zaman kalifah dinasti umayyah sampai dewasa ini dan yang terbentang dari timur sampai ke barat, seakan-akan di taburi oleh masjid-masjid yang indah dan menakjubkan.
Keindahan yang di miliki oleh masjid mekah, masjid madinah, masjid damsyik, masjid qait bey, masjid cordova, masjid salim, masjid motti, dan sebagainya, merupakan bukti yang nyata, bagaimana ketinggian seni bangunan islam semenjak berabad-abad yang lampau dan disamping itu yang terpenting lagi ialah masjid itu selain dari fungsinya sebagai rumah ibadah , ia melambangkan pula akan kemahabbah umat islam terhadap kebesaran Tuhan-Nya Yang Maha Esa.
Akan tetapi dalam kenyataaannya janganlah di lupakan bahwa di samping usaha dan kegiatan untuk membangun mesjid yang dapat di banggakan keindahannya, ada pula di antara ulama-ulama islam yang berpendapat bahwa masjid Tuhan itu harus di buat dalam bentuk yang sederhana, tidak boleh di hiasi apalagi dengan keindahan yang berlebih-lebihan.
Sebab lahirnya pendapat yang seperti ini, ialah beralasan kepada hadist-hadist yang tertera di bawah ini :
Di riwayatkan Anas r.a bahwa Rasulullah SAW telah bersabda ; la taqumus-sa ‘atu hatta yatabahannnasu fil-masajid .“  Maksudnya : “tidaklah akan berdiri hari kiamat, hingga manusia bermegah-megah pada masjid.”
Di riwayatkan pula oleh Khuzaimah dari Anas, berkata dia : Aku mendengar Rasulullah s.a.w berkata : “ Ya’ti ‘ala ummati zamanun yatabahina bil masajid, tsumma la ya’murunahu illa qalila. “ Maksudnya :
“aku datang atas umatku suatu masa yang bermegah-megah mereka dengan masjid-masjid, kemudian tiada diramaikan masjid itu, kecuali sedikit saja”
Di riwayatkan dari Ibnu Abbas, berkata dia : berkata Rasulullah s.a.w : ma umirtu bitasy-yidil-masajid. Maksudnya :  tiadalah saya di suruh dengan mempermegah masjid-mesjid.
Ketiga hadist yang tersebut di atas mengesankan seolah-olah Rasulullah s.a.w tidak menghendaki supaya masjid-masjid itu didirikan dalam bentuknya yang megah lagi indah sehingga dengan cara pengartian ini lahirlah suatu pendapat atau paham dalam kalangan islam sendiri yang menghendaki bahwa bentuk masjid itu haruslah sederhana sifatnya dan setiap usaha yang mengutamakan keindahan dan kemegahan rupa, niscaya akan di murkai oleh Tuhan.
Dalam jilid pertama telah di terangkan bahwa dalam tahun 654 H, terjadilah kebakaran hebat pada masjid madinah, serentak dengan itu timbullah anggapan dari sebagian kaum muslimin sendiri, seperti anggapan dari Qastalani dan lain-lainnya bahwa kebakaran masjid itu menurut faham mereka, pada hakikatnya merupakan tanda kemurkaan Tuhan kepada umat islam yang sudah berlebih-lebihan menghiasi mesjid itu.
Akan tetapi manakala hadist yang tersebut di atas di teliti, maka akan ternyatalah bahwa maksudnya bukanlah melarang kaum muslimin membina masjid-masjid yang indah dan menakjubkan.
Hadist yang pertama maksudnya bukan melarang, tetapi adalah pemberitaan dari apa yang akan terjadi sebelum hari kiamat.
Menurut Ibnu Arselan, hadist yang tersebut adalah merupakan salah satu dari mukjizat Rasulullah yang besar, di mana dia telah meramalkan bahwa akan datang masanya nanti orang mendirikan masjid-masjid yang indah dan megah.ramalan Rasulullah ternyata telah terbukti dengan terdapatnya masjid yang indah-indah di kairo, syiria dan sebagainya. Hadis yang kedua juga merupakan suatu pemberitaaan bahwa pada suatu masa nanti orang hanya berlomba-lomba untuk memperindah masjid Tuhan, akan tetapi masjid itu sendiri tidak ramai dengan kaum muslimin yang beribadah, tabligh, dan sebagainya.
Jadi hadist ini bukanlah maksudnya melarang mendirikan masjid dalam bentuk yang indah dan megah.
Hadis yang ketiga yang menyatakan bahwa nabi tidak di suruh mendirikan masjid yang indah, bukan pula dimaksudkan sebagai larangan. Sebaliknya ada alasan-alasan lain yang menyatakan bahwa bahwa masjid itu tidaklah seharusnya bersahaja dan sederhana,tetapi haruslah terjaga kebersihan dan keindahannya.
Diriwayatkan dari Aisyah istri Nabi, ia berkata : amara Rasulullah s.a.w bi binail masajid fid-dari wa an tunazzhafa wa tuthayaba” Maksudnya : “telah menyuruh Rasulullah s.a.w dengan mendirikan masjid didalam negeri. Dan bahwa di bersihkan dan di baguskan.”
Dalam sebuah hadist Rasulullah telah bersabda : innallaha jamil, yuhibbul-jamal.  Maksudnya :  “bahwa sesungguhnya tuhan itu adalah amat indah, ia mengasihi keindahan.”
Di dalam Al qur’an terdapat pula ayat-ayat yang menghendaki agar umat islam itu janganlah melupakan dan mengabaikan soal-soal keindahan.firman tuhan dalam surah Al A’raaf  31-32  yang artinya :
* ûÓÍ_t6»tƒ tPyŠ#uä (#räè{ ö/ä3tGt^ƒÎ yZÏã Èe@ä. 7Éfó¡tB (#qè=à2ur (#qç/uŽõ°$#ur Ÿwur (#þqèùÎŽô£è@ 4 ¼çm¯RÎ) Ÿw =Ïtä tûüÏùÎŽô£ßJø9$# ÇÌÊÈ   ö@è% ô`tB tP§ym spoYƒÎ «!$# ûÓÉL©9$# ylt÷zr& ¾ÍnÏŠ$t7ÏèÏ9 ÏM»t6Íh©Ü9$#ur z`ÏB ÉøÌh9$# 4 ö@è% }Ïd tûïÏ%©#Ï9 (#qãZtB#uä Îû Ío4quŠysø9$# $u÷R9$# Zp|ÁÏ9%s{ tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# 3 y7Ï9ºxx. ã@Å_ÁxÿçR ÏM»tƒFy$# 5Qöqs)Ï9 tbqçHs>ôètƒ ÇÌËÈ  
“Hai anak Adam ! ambilah perhiasan kamu pada tiap-tiap masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan keterlaluan.katakanlah hai Muhammad, siapa gerangan yang berani mengharamkan keindahan ( perhiasan ) Tuhan, keindahan yang di kurniakan-Nya untuk hamba-Nya, dan rezki-rezki yang bagus.ketahuilah hai Muhammad, bahwa keindahan itu adalah untuk orang yang beriman semasa hidup di dunia dan khusus pada hari kemudian.demikianlah kami jelaskan ayat-ayat kami untuk mereka yang ingin mengetahui. Katakanlah bahwa sesungguhnya yang di haramkan Tuhan ialah yang keji-keji, baik yang nyata ataupun yang tersembunyi, berbuat dosa dan aniaya dengan tiada alasan, dan mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak di turunkan kekuasaan kepadanya dan mengatakan atas Allah itu sesuatu yang tidak kamu ketahui.” ( surah Al A’raaf ayat 31-32 )”
Maksud hadist-hadist yang tersebut di atas, ialah bahwa, masjid-masjid itu haruslah senantiasa terjamin kebersihannya, dan harus bagus di pandang mata.Tuhan sendiri, di samping Ia Maha Esa,Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Besar, Maha Pengampun dan memiliki sifat-sifat lainnya, juga Tuhan adalah Maha Indah dan mengasihi segala keindahan.
Di dalam ayat yang tersebut di atas juga, Tuhan menghendaki supaya kaum muslimin memakai pakaian yang bagus- bagus apabila pergi ke mesjid untuk beribadah atau bersembahyang jum’at, maka sebagai imbangannya sudah sewajarnya mesjid Tuhan itu harus bagus dan indah pula.
Agama islam bukanlah memicingkan mata terhadap segala sesuatu yang mengandung unsur-unsur keindahan.bahkan di tegaskan di dalam Al qur’an , bahwa keindahan itu harus di hargakan dan di miliki oleh setiap orang mukmin.
( C.ISRAR, sejarah kesenian islam jilid 2 )
Ø materi diskusi kelompok H
Ø anggota :
1.     M.Zulgibli
2.     Dodi A
3.     M. Rafles
4.     Syahrozi
5.     M. Nur Ahmad
6.     Siti Aminah

Apabila Artikel atau info dalam blog ini baik dan bermanfaat bagi anda, harap disebarkan
Leave A Reply

Your email address will not be published.